30 Juni, 2009

Empat Gaya Komunikasi Suami Istri

Apakah Anda mempunyai hubungan yang harmonis dengan suami/istri? Sudahkah Anda sebagai pemilik Mobil Keluarga Terbaik Di Indonesia berkomunikasi secara baik dan terbuka dengannya? Jika semua jawaban adalah ‘tidak’, berarti ada yang salah dalam cara Anda berkomunikasi. Pasangan suami istri sebaiknya tidak membiarkan kondisi seperti ini berlarut-larut karena hal ini bisa membawa Anda ke masalah yang lebih besar.

Sebelum mengatasi masalah ini, Anda harus tahu terlebih dulu apa gaya komunikasi Anda sekarang. Berikut empat gaya komunikasi :

Gaya mengontrol.
Pasangan suami istri yang menggunakan gaya komunikasi ini biasanya tidak mau mendengarkan opini pasangannya dan cenderung untuk menghindari perbedaan pendapat. Contoh : jika istri memulai percakapan, suami tidak mau mendengar; malah memotong pembicaraan istri dengan berbicara lebih panjang lebar. Atau percakapan ini bisa menjadi pertengkaran dengan saling berteriak satu sama lain tanpa ada yang mau mendengar.

Dalam situasi ini, istri sebenarnya membutuhkan saran atau solusi, tidak hanya instruksi / perintah dari suami. Seorang ahli menyatakan bahwa suami istri yang menerapkan gaya ini tidak mau menghargai perasaan dan pendapat pasangannya serta cenderung untuk memaksakan kehendaknya sendiri. Bagi mereka, menjadi ‘yang paling benar’ adalah lebih penting daripada berusaha untuk menjaga keharmonisan hubungan.

Gaya konvensional
Tidak ada diskusi atau percakapan terbuka mengenai masalah-masalah penting pada suami istri yang menggunakan gaya ini. Suami atau istri cenderung untuk menghindari diskusi dengan mengalihkan perhatian ke hal lain yang tidak berkaitan.

Contoh: jika istri ingin membicarakan masalah anak, suami berusaha menghindar dengan mengalihkan topik pembicaraan ke hal lain yang sederhana seperti cuaca atau kegiatan sehari-hari. Seorang ahli mengatakan bahwa komunikasi yang terjadi hanyalah komunikasi semu dimana terjadi kurangnya penghargaan terhadap perasaan pasangan.

Gaya spekulatif
Suami istri umumnya sudah berpikiran terbuka untuk menerima dan menghargai ide dan pendapat pasangan, tetapi pengguna gaya ini biasanya menghabiskan waktu dengan lebih banyak saling bertanya daripada mengekspresikan perasaannya masing-masing. .

Contoh: suami mau mengajak istri untuk menemaninya dalam suatu perjalanan bisnis. Bukannya langsung mengajak istri, suami malah banyak bertanya dan berusaha menebak-nebak sendiri bagaimana perasaan dan keinginan istri. Pembicaraan berkembang menjadi saling bertanya dan biasanya berakhir begitu saja tanpa ada solusi yang jelas.

Dalam situasi ini, suami istri bukan hanya tidak mengekspresikan perasaan sebenarnya tetapi juga malah ‘berputar-putar’ di sekitar topik yang dibicarakan. Hal ini menyebabkan sering timbulnya kesalahpahaman antara suami istri.

Gaya Kontak Penuh
Gaya ini diterapkan suami istri yang mau mendengar dan menghargai opini pasangannya. Mereka tidak ragu untuk mendiskusikan setiap masalah penting dan mengekspresikan keinginannya masing-masing. Suami istri ini selalu berusaha untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan membina komunikasi yang terbuka dan saling menghargai.

Dari semua gaya komunikasi di atas, gaya kontak penuh adalah yang paling tepat untuk diterapkan oleh setiap pasangan suami istri yang ingin tetap menjaga keharmonisan dalam pernikahan mereka.

Jadi, apa gaya komunikasi Anda?

0 komentar:

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP