26 September, 2013

Komunikasi Dokter dan Pasiennya : Pentingkah?



Wah, ternyata sudah lama juga blog ini tidak diupdate. Penanggung jawab blog alias suami sudah ngga sempat lagi ngeblog, ya sudah deh, saya aja yang update, kebetulan memang lagi ada yang ingin ditulis. Blog saya kebetulan berbahasa Inggris semua, ribet ah kalau harus mikirin grammar lagi.

Di sini saya hanya sekedar berbagi cerita tentang pengalaman saya sendiri. Sekitar sebulan yang lalu, saya menjalani operasi miom uteri (tumor jinak di rahim) di salah satu rumah sakit di Jakarta. Walau saya domisili di Bogor, saya memilih operasi di sana karena alasan utamanya, saya merasa cocok dan percaya dengan dokter A di RS tsb. dan tidak mau beralih ke dokter lain. 

Pernah mencoba sebelumnya konsultasi ke beberapa dokter di Bogor, tapi sayangnya belum ketemu yang sreg di hati. Saya ini tipe pasien yang sensitif, kalau ada kata-kata dokter yang membuat saya semakin ‘down’ dan kecil hati apalagi yang kesannya menyalahkan, saya pasti ngga mau ketemu dokter itu lagi. Menurut saya, cara berkomunikasi seorang dokter ke pasiennya adalah hal yang sangat penting. Dokter yang siap menjawab setiap pertanyaan, merasa kita nyaman, mau menjelaskan kondisi penyakit kita dan menggunakan kata-kata yang positif adalah dokter yang kita cari, kan?
 
Ruang tunggu poliklinik kebidanan sebuah rumah sakit di Jakarta
Saya mau mencoba ke dokter A karena beliau adalah dokter dari semua kakak ipar dan sangat mereka rekomendasikan. Pada saat konsultasi pertama kami, beliau tidak pernah menyalahkan rasa takut saya dan menganggap itu hal yang manusiawi.  Dokter-dokter yg sebelumnya semuanya seperti menyalahkan saya,”Mengapa Ibu tidak datang lebih awal, kalau sejak awal sudah konsultasi pasti lebih mudah diatasi, mengapa dibiarkan selama ini, bla bla bla…” Beliau –dokter A- malah ngajak bercanda,”Walau saya dokter, saya takut disuntik lho Bu...”

Saya memang takut operasi, tapi saya rasa saya ngga sendiri deh. Sebenarnya sih alasan utama menunda operasi karena keinginan untuk mempertahankan rahim selama mungkin karena kami belum dikaruniai anak. Tapi ternyata usaha alternatif ngga ada yang berhasil, kondisi saya terus menurun dengan berbagai gangguan kesehatan, saya merasa tidak bisa menunda lagi dan harus siap menerima operasi sebagai solusi.

Dokter A memberikan penjelasan mengenai kondisi saya dengan bahasa yang mudah dimengerti, membesarkan hati, memberi harapan tapi tetap mengajak saya untuk berpikir realistis. Beliau juga rendah hati,”Mungkin ada cara lain yang bisa menyembuhkan Ibu, tapi saya tidak mempelajari hal itu. Karena Ibu datang ke saya, solusi yang bisa saya tawarkan hanya operasi. Saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk mempertahankan rahim Ibu, selama kondisinya masih bisa dipertahankan. Kita tidak bisa mempertahankan rahim yang sudah tidak bisa berfungsi kan Bu?” Pada saat itu saya pasrah kepada Yang Kuasa dan mempercayakan operasinya kepada dokter A. Suami yang selalu mendukung juga punya perasaan sama.

Ceritanya sampai di sini dulu ya Sobat. Topik ini masih bersambung karena untuk sebuah operasi, kita harus berkonsultasi dengan dokter-dokter bagian lain. Untuk kasus saya, kita berkonsultasi juga ke dokter anestesi, jantung dan urologi; ada pengalaman menarik lain yang berkaitan dengan hal ini. Sampai ketemu di tulisan berikutnya :)



2 komentar:

Indonesia Pedicab Jumat, September 27, 2013 10:57:00 AM  

Thanks dah sharing. Jadi ingat, team kami ketika sedang bekerja jarinya terputus oleh alat sehingga harus operasi untuk disambung kembali. Alhamdulillah sekarang sudah hampir pulih. Happy weekend.

Lowongan Kerja 2014 Selasa, April 29, 2014 9:05:00 PM  

Operasi memang menakutkan mas :)



Informasi Lowongan Kerja CPNS 2014

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP