03 November, 2013

Konsultasi Dokter yang Menakutkan



Tulisan kali ini terkait dengan postingan sebelumnya mengenai komunikasi dokter dan pasiennya.  Saya yakin Sobat sepakat bahwa sebagai pasien, dokter yang kita inginkan adalah dokter yang bisa berkomunikasi dengan baik kepada pasiennya. Pada waktu mendampingi Istri berkonsultasi ke beberapa dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta, kami punya pengalaman ‘menakutkan’ tapi menarik untuk ditulis.

Selain dokter A di poli Kebidanan yang akan mengoperasi Istri, sebelum operasi kita juga harus ke dokter jantung, dokter anestesi dan dokter di bagian urologi. Konsultasi dengan dokter jantung berlangsung cepat dan tanpa masalah, beliau hanya memberi vitamin karena Hb (hemoglobin) Istri pada saat itu sangat rendah.   Pasien operasi syarat minimal Hb 10, sedangkan Hb Istri hanya 6,4.

Di hari lain, saya dan Istri konsultasi ke dokter di bagian urologi dan anestesi pada hari yang sama.  Dokter kami di Poli Kebidanan meminta kami konsultasi juga ke bagian urologi karena ureter (saluran kencing) kiri Istri –pada hasil radiologi- terlihat mengalami pembengkokan karena tertekan miom pada rahim.  Setelah mengamati foto-foto radiologi, dokter ahli urologi menyatakan opininya, seperti ini :
“Dokter A terlalu berani melakukan operasi ini, seharusnya operasi dengan kondisi seperti ini dilakukan oleh ahli onkologi, bukan dokter kebidanan. Kalau Dokter A tetap yakin untuk mengoperasi, saya harus melakukan pengamanan dengan memasang selang untuk melindungi ureter dari pisau operasi. Ibu, bisa bahaya kalau ureter terpotong dan urine masuk ke perut.  Kalau selang tidak bisa tembus karena ada perlengketan hebat, operasi tidak bisa dilakukan.”

Apa yang dikatakan dokter ahli urologi ini tidak salah, tapi caranya berkomunikasi menurut saya kurang baik. Dokter ini sepertinya meremehkan rekan dokternya di rumah sakit yang sama, dokter A yang sudah kami percaya untuk mengoperasi Istri. Setelah konsultasi ini, Istri langsung down, nangis dan sempat ragu untuk melanjutkan prosedur menuju operasi. Saya berusaha meyakinkan Istri bahwa kita percaya saja kepada keputusan Dokter A dan pasrah kepada Allah.

Setelah Istri yakin dan siap untuk melanjutkan konsultasi, saya segera mendaftar untuk konsultasi ke dokter anestesi. Ternyata yang kami alami lebih mengagetkan. Ibu dokter ini jutek banget dan berbicara seperti ini:
“Ibu tahu apa yang terjadi dengan Hb Ibu??!!”
Istri: “Tahu dok, Hb saya rendah”
Dokter anestesi : “Sangat rendah Bu. Seharusnya Ibu sudah pakai kursi roda karena bisa mendadak pingsan. Ibu harus ditransfusi darah lebih dahulu sebelum operasi. Saya tidak mau melakukan anestesi sebelum Hb Ibu minimal 10. Dengan Hb rendah, Ibu bisa meninggal dunia di meja operasi karena darah yang membawa oksigen tidak sampai ke kepala. Ada yang ditanyakan??”
Kita sampai ngga ada keinginan untuk bertanya karena sudah kaget dan shock duluan dengan suasana konsultasi yang ‘mencekam’, seperti konsultasi skripsi dengan dosen killer.    

Sekali lagi, apa yang dikatakan Ibu dokter anestesi tidak salah, tapi cara berkomunikasinya itu lho, masa di depan pasien ngomong meninggal dunia di meja operasi. Untung saja Istri ngga down lagi, dia cuma bilang, “Itu dokter kok galak banget ya”. Ini jelas-jelas merugikan pasien, karena kita sebenarnya ingin tau apakah ada resiko dari pemberian obat bius dan apa rencana penerapan anestesi pada operasi nanti, apakah bius lokal atau total. Suasana konsultasi yang tidak nyaman membuat pasien seperti kami enggan berlama-lama berhadapan dengan dokter yang bersangkutan.

Singkatnya, pada kesempatan konsultasi berikutnya dengan Dokter A yang akan mengoperasi Istri, kami datang dengan membawa semua hasil konsultasi dengan dokter-dokter bagian lain.  Dengan gayanya yang bersahabat, Dokter A hanya mengatakan kepada kami :
Momen sebelum dibawa ke ruang operasi
“Begini Pak, Bu, jadi operasi akan dilakukan bersama oleh saya dan dokter urologi. Sebelum operasi, akan dilakukan terlebih dulu pemasangan selang untuk melindungi ureter Ibu, baru saya akan melanjutkan.  Ibu harus masuk kamar rawat inap lebih awal karena harus tranfusi darah juga”
Waktu pertama kali melihat hasil radiologi Istri, komentar Dokter A juga menyejukkan:
“Masih ada harapan Bu, ngga parah-parah banget”   
Sore itu juga Istri masuk kamar rawat inap. Malamnya dan esok harinya, Istri menerima tiga kantung darah. Alhamdulillah operasi berjalan lancar dan selamat, walau kenyataannya rahim Istri harus diangkat.

Saya tidak ada kenginan untuk menyinggung siapapun, karena itu saya tidak menyebut nama dokter dan nama rumah sakit di tulisan ini. Hanya sekedar curhat, semoga para dokter bisa berkomunikasi lebih baik lagi kepada pasiennya. Pasien adalah orang yang sedang tidak sehat dan biasanya lebih sensitif perasaannya. Saya sih berharap dokter lebih bisa berempati.  Sobat pernah mengalami hal yang sama?

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP